Merdeka Belajar Bersama Kak Elan

Talkshow Merdeka Belajar bersama Kak Elan - Sabtu, 30 Juli 2022 bertepatan dengan tahun baru Islam 1444 Hijriyah. Sebelumnya event tim bersama teman-teman ekosistem Ibu Pembaharu lainnya mengangkat tema Pentingnya Tuntas Fitrah Seksualitas.

Mengapa kami mendaulat Kak Elan atau Mas Elan ini sebagai narasumber Coffee for Change Tim Kaizen, karena di usianya yang tergolong belia, 19 tahun, sudah mampu menemukan caranya belajar hingga memiliki dua usaha Tualang Kopi dan KN Rotisserie, gerai ayam bakar.

Elan Negara sudah mulai menjalani homeschooling sejak duduk di TK B. Memiliki proyek-proyek seperti Robocycle, SoBike, School on Bamboo Bike, mengajak anak-anak bersepeda sembari belajar dari mentor atau ahli di suatu bidang. 

Tentunya hal ini memantik rasa ingin tahu para bunda yang ingin memperoleh wawasan  dari Mas Elan.

merdeka belajar bersama Kak Elan
Narasumber Elan Negara / Kanal Youtube Tim Kaizen


Belajar Di Luar Sekolah Menurut Pengalaman Mas Elan


Homeschooling memang tidak mengharuskan anak untuk mengikuti sekolah formal, sepintas dapat disebut sebagai suatu pendidikan bebas, namun tetap memiliki beberapa batasan. Konsepnya harus membuat tolok ukur sendiri, atau tolak ukur yang dibuat oleh mentor/pakar, agar sejauh mana perkembangannya, bisa dilihat.

Selain homeschooling, ada pula unschooling sebagai variasi dari homeschooling.[1]. Metode pendidikan homeschooling mempunyai kurikulum standar pada akhir proses pembelajaran, di mana anak mengikuti ujian untuk mendapatkan ijazah. Sedangkan pada unschooling, pembelajaran tidak mengikuti kurikulum standar sehingga tidak mendapatkan ijazah.[2]. Mas Elan memilih yang terakhir. 

Menurutnya, pada homeschooling masih membawa pelajaran-pelajaran di sekolah yang tempat pembelajarannya dilakukan di rumah. Sementara pada unschooling, benar-benar berbeda dari pendidikan formal, informal, dan nonformal.

Jadi dari SD hingga perguruan tinggi Mas Elan tidak memiliki ijazah sekolah formal. Namun dari tutur bahasanya, putra bungsu Ibu Septi Peni Wulandani, founder Ibu Profesional ini, sistematis dan tertata sekali dalam menjawab dan menjelaskan pertanyaan dari moderator, Sri Tantri Sintia Indriati atau akrab disapa Mbak Tantri.

Youtube Tim Kaizen
Acara ini juga disiarkan langsung melalui kanal Youtube Tim Kaizen / Mbak Tantri bertugas sebagai moderator acara 



Masih Ingin Menemukan Hobinya


Mas Elan ketika ditanya mengenai hobinya, katanya masih mencari sebenarnya apa ya hobinya. Selain tampak sebagai pembelajar sejati, Mas Elan mudah bosan jika melakukan sesuatu yang itu-itu saja. Sehingga proyek-proyeknya memiliki durasi waktu yang lebih pendek ketimbang proyek kakak-kakaknya.

Mas Elan konsisten dengan tidak sekolah formal. Bapak dan ibu mempertanyakan ingin melanjutkan pendidikan di bangku kuliah atau bekerja. Sejak usia 14 tahun anak diajarkan untuk berani keluar dari rumah, hijrah, hidup jauh dari keluarga. Maka dibuatlah papan mimpi (dream board) dan mind mapping. Walaupun peta pikiran yang dibuat dulu belum jelas. 

Mind mapping bertujuan untuk melatih struktur berpikir.


Melalui proyek SoBike, Mas Elan mengasah minatnya, meski belakangan minat tersebut berubah-berubah tidak masalah, yang penting keingintahuan anak dapat disalurkan dengan baik. SoBike pula yang mengantarkan Mas Elan sampai diundang oleh seorang profesor di Jepang. Berbekal mind mapping dalam bentuk flipchart, Mas Elan berhasil mempresentasikan idenya di negeri matahari terbit itu.


Orang Tua sebagai Pendamping dalam Belajar


Bapak dan ibunya Mas Elan sangat menyadari bahwa cara mendidik anak di zaman sekarang berbeda dengan cara mendidik di zaman dahulu. Sehingga peran orang tua sangat penting dalam memdampingi putra-putrinya dalam belajar.

Ada 4 (empat) pilar edukasi yang diajarkan bapak-ibu kepada Mas Elan, yaitu:
  1. Iman
  2. Akhlak
  3. Adab
  4. Bicara

Jadi jika keempat pilar ini sudah dimiliki, maka ke manapun anak merantau, mau sekolah formal atau homeschooling, unschooling, ia dapat mewujudkan impiannya. Apalagi yang nomor 4, bicara, tak heran semua anak Pak Dodik dan Bu Septi memiliki kemampuan berkomunikasi dan public speaking yang baik, runtut, jelas, dan hampir tidak ada kesalahan dalam menyampaikan pokok-pokok pikirannya.


merdeka belajar tim kaizen
Tim Kaizen yang dinakhodai Mbak Nana (pojok kanan atas) foto bareng dengan Mas Elan

"Ditendang" dari Rumah


Kebiasaan yang diterapkan oleh orang tua Mas Elan di dalam keluarga, pada usia remaja, anak "ditendang" dari rumah alias hijrah. Pasti banyak hal yang dapat dipelajari dari hijrah ini, anak memperoleh pelajaran bagaimana bertahan untuk hidup (survival), melatih kemampuan beradaptasi, komunikasi dengan orang-orang yang baru dikenal, dan masih banyak lagi faedah lainnya dalam suatu hijrah.

Adapun tantangan terbesar yang dirasakan Mas Elan adalah banyaknya pertanyaan dan komentar orang tentang ia yang memilih tidak kuliah, dan akan bekerja di mana ia nantinya. Jalan unschooling yang ia tempuh memang tidak semudah anak yang bersekolah formal.

Pendidikan di sekolah formal dapat diprediksi waktu selesai belajarnya. SD menghabiskan waktu 6 tahun, SMP 3 tahun, SMA 3 tahun, kuliah di perguruan tinggi kurang lebih 4 tahun. Sementara pada pendidikan unschooling tidak ada batasan waktu yang jelas. Semuanya ditetapkan sendiri, sangat tergantung pada si pembelajarnya.

Kekuatannya justru pada motivasi internal anak dalam menjalani dan menyelesaikan proses pembelajarannya. Berbeda dengan sekolah karena disuruh orang tua, anak kadang-kadang malas bangun pagi hingga telat tiba di sekolah, menunda mengerjakan PR, dan masih banyak lagi problem yang muncul akibat kurangnya motivasi diri anak.


Pengakuan Kemampuan dari Pakarnya


Terkait tolok ukur pencapaian hasil belajar pada anak unschooling, Mas Elan menegaskan soal pengakuan kemampuan, harus dikeluarkan oleh orang yang kompeten di bidangnya, bukan dari orang tuanya sendiri, atau orang lain yang tidak memiliki kredibilitas yang sah untuk menilai si anak sudah mampu atau masih harus belajar lagi.

Demikian pula tentang kritikan, Mas Elan menerima kritikan dari yang memang ahli di bidang tersebut. Tentunya hal ini dapat dijadikan panduan bagi para bunda yang terkadang langsung merasa kecewa ketika dikritik oleh orang lain.

Cek terlebih dahulu, apakah yang memberikan kritik memang kompeten di bidang itu atau hanya sekadar berkomentar saja. Jika memang kritik keluar dari ahlinya, maka tentunya hal ini dianggap sebagai sarana untuk belajar lagi, memperbaiki hal-hal yang layak untuk dibenahi kembali.


Gelas yang Senantiasa Kosong


Selama ini acapkali kita mendengar teman yang ingin belajar suatu ilmu baru, katanya dia akan mengosongkan gelas. Oleh Mas Elan logika ini dibalik. Malah gelasnya memang kosong. Sehingga dengan bekal anggapan yang seperti ini, kita menjadi lebih bersemangat lagi untuk belajar hal baru secara terus menerus.

Dari pernyataan Mas Elan, terasa sekali low profile-nya. Meski sudah menggeluti dunia bisnis di usia yang masih muda, dididik oleh kedua orang tua yang hebat, kakak-kakaknya yang juga cemerlang, Mas Elan masih mengatakan bahwa gelasnya kosong.

Pesan penutup Mas Elan setelah sesi interaktif berakhir sangat berkesan di hati semua peserta talkshow pada hari itu:
Yang paling tahu mengenai anak ibu adalah ibunya sendiri, jadi tidak perlu banyak bertanya di kelas-kelas parenting, sudah saatnya bertanya pada anaknya secara langsung.

 

Tualang Kopi dan KN Rotisserie
Mas Elan, anak muda yang inspiratif

Kesimpulan


Merdeka belajar bersama Kak Elan dapat disimpulkan menjadi poin-poin sebagai berikut:
  • Belajar itu bisa dilakukan kapan dan di mana saja, baik melalui pendidikan formal maupun unschooling, yang penting adalah terus belajar, tidak berhenti belajar.
  • Proyek dapat dijalankan anak jika sesuai dengan minatnya, dengan durasi waktu yang disesuaikan dengan kondisi anak. Tidak harus dalam waktu yang panjang, jika anak mudah bosan bisa menjalankan proyek yang waktu pelaksanaannya relatif singkat saja.
  • Merdeka belajar bukan berarti merdeka sebebas-bebasnya tanpa batas. Tetap memiliki tolok ukur pembelajaran, bisa dibuat sendiri, bisa pula dibuat oleh pakar di bidang yang akan dipelajari.
  • Senantiasa menganggap diri sebagai gelas kosong sehingga butuh belajar terus untuk mengisinya.
  • Sebaiknya tidak terlalu mempermasalahkan anak yang bermain game online, justru jika semakin dilarang anak akan terus mencari cara agar bisa main game online. Ibu harus pandai-pandai berkomunikasi yang produktif dengan anak digital native.
  • Memperbanyak ngobrol dengan anak. Karena kunci jawaban dari pertanyaan-pertanyaan di kelas-kelas parenting ternyata ada pada anak sendiri. Orang tua penting sekali mengetahui dengan mengajaknya ngobrol.

Senang sekali bisa sharing langsung dengan Mas Elan, banyak insight yang diperoleh dari pengalaman-pengalamannya. Semoga ke depannya ada sesi khusus anak-anak remaja ketemu juga dengan Mas Elan. Insyaallah menginspirasi, meningkatkan kepercayaan diri anak-anak muda Indonesia, termotivasi untuk maju terus meraih impiannya.

Terima kasih, Mas Elan.

Teman-teman bisa menyimak siaran ulangnnya di kanal Youtube Tim Kaizen ya...


Salam komunikasi produktif keluarga adaptif

(Tim Kaizen - Ekosistem Ibu Pembaharu, 2022).


Referensi:

Rangkuman talkshow bagi orang tua dan remaja, Merdeka Belajar bersama Kak Elan Negara, yang diselenggarakan melalui media Zoom dan disiarkan secara langsung di kanal Youtube Tim Kaizen, Sabtu, 30 Juli 2022, pk. 13.00 sd. selesai.

[1] Sulistyani, S. A. (2021). Implementation of Unschooling Education Model As An Effort to Develop Tolerance Values. Dialog, 44(2), 152-165.

[2] https://blog.kejarcita.id/perbedaan-homeschooling-dengan-unschooling/


Penulis: Mia_Tim Kaizen

Post a Comment